Blogger pun Ikut Meriahkan Kuta Karnival, Efektif?
Ketika suatu event besar dengan skala Internasional, pastinya akan merangkul media nasional, bahkan internasional sebagai media publikasi. Event sebesar Kuta Karnival ternyata menggunakan cara yang baru dan berbeda untuk publikasi. Selain merangkul berbagai media, baik media cetak maupun elektronik, panitia Kuta Karnival juga menerobos pakem lama, dimana media cetak dan media elektronik sebagai media yang paling ampuh dalam publikasi. Kini Panitia Penyelenggara Kuta Karnival menggandeng para blogger, khususnya Blogger Bali yang tergabung dalam Bali Blogger Community (BBC).
Lantas, apa yang membuat publikasi Kuta Karnival menjadi booming lewat internet? Kira-kira begini. Anggota Bali Blogger Community yang terdaftar lebih dari 200 orang. Sementara anggota yang cukup aktfi antara 50-100 orang. Aktif dalam arti posting tulisan di blog masing-masing atau aktif berperan serta dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh BBC.
Nah, anggap saja ada 25 orang blogger Bali yang menulis tentang Kuta Karnival, tentu saja dengan sudut pandang yang berberda-beda dan gaya penulisan yang berbeda-beda pula. Belum lagi ada lomba penulisan blog tentang Kuta Karnival yang dikomandani oleh BBC, anggap saja ada 25 blogger yang mendaftar. Jadi setidaknya ada 50 tulisan tentang Kuta dan khususnya Kuta Karnival.
Kita lihat sekarang, ada 100 media partner yang menulis dan menyiarkan event Kuta Karnival. Satu Koran akan memuat satu kali berita ini, dan satu televisi akan menayangkan satu kali event ini. Mungkin banyak yang membaca atau menyaksikan acara ini melalui televise. Tapi, bukankan berita itu sepintas. Kecuali kita mau mengklipingnya? Jadi, berita melalui media masa, hanya pesan lewat saja.
Sekarang kita kembali ke media internet (blogger), ada 50 blogger yang menulis tentang Kuta Karnival, dan tulisan itu akan bertahan setidaknya selama blog itu ada di dunia maya. Berapa tahun? Mungkin ada yang setahun, 2 tahun, 3 tahun, 10 tahun. Dan seterusnya. Arsip event ini akan menumpuk di internet. Dan ketika seseorang membutuhkannya kembali, tinggal ketik Google, search Kuta Karnival. Seketika info tentang Kuta Karnival hasil tulisan para blogger akan terpajang di layar monitor.
Berikutnya, mungkin timbul pertanyaan. Internet kan belum menjangkau sebagian besar masyarakat, pasti kurang efektif. Memang. Tapi, kalau tujuan promosinya untuk mengundang wisatawan datang ke Bali akan menjadi sebaliknya. Saya yakin (maaf ini keyakinan sendiri), wisatawan sudah pada pintar sekarang, sebagian besar wisatwan akan menggunakan referensi internet sebagai media riset sebelum memutuskan kemana mereka akan berlibur. Tapi jika tujuannya hanya untuk sekedar pemberitaan, media televisi mungkin ampuh.
Berikutnya. Berapa oplah sebuah surat kabar dan berapa luas jangkauannya? Kembali ke blog dan internet. Jangkauan luas, oplah tak dibatasi tinta dan kertas. Tak dibatasi malam atau deadline.
Dari sekelumit contoh ini, saya mencoba menarik kesimpulan (masih menurut pendapat pribadi), bahwa panitia Kuta Karnival sudah cukup jeli menjadikan blogger sebagai mitra publikasi. Potensi blogger, dari hari ke hari makin eksis. Kenapa blogger?. Karena disana, apa yang dilihat, dirasa, didengar akan ditulis oleh blogger, tanpa aturan jurnalisme yang ketat. Disana juga ada interaksi. Pembaca bisa menambahkan atau mengurangi tulisan dengan komentar yang tersedia dalam setiap postingan.
Makin banyak orang yang menyadari bahwa berbagi itu indah. Seperti obrolan saya dan Hendra W.S. bersama Ndorokakung (Mas Wicaksono) beberapa malam yang lalu ketika meminta kesediaan beliau menjadi juri Lomba Menulis Blog yang diadakan oleh BBC, bahwa tujuan ngeblog karena kepuasan batin, uang nomer 17 katanya. Beliau menyatakan, bahwa kita begitu mudahnya menerima dari internet. Kita butuh MP3 tinggal download, butuh referensi ilmiah tinggal buka Wikipedia. Butuh video, buka Youtube. Lantas, jika tidak ada orang yang berbagi, kapan kita bisa menikmati internet seperti sekarang???
Sedang, kata Pak Nukman Luthfie, ngebloglah dengan cinta. Maka kita tidak akan merasa kelelahan atau kehabisan bahan tulisan.
Sekarang kembali ke blogger, siapkah blogger menjadi agen perubahan? Bukankah dengan ngeblog, menyampaikan informasi yang jujur kepada khalayak adalah bentuk pengabdian?
Sedang di sisi pemerintah dan pihak yang mempunyai kompetensi, siapkah mengajak dan mengeksplorasi potensi para blogger?
Tulisan diambil dengan ijin dari Bali.ikads.com


Boleh dunk share ma blog aq … Thx